Kali ini saya akan memberikan kalian yang sedang membaca, sebuah essay. Essay ini berisi hal penting yang nyatanya sudah banyak ditinggalkan oleh "Kids Jaman Now".
Shalom Yang Mulai Hilang Ditelan Jaman Milenial
Shalom Yang Mulai Hilang Ditelan Jaman Milenial
Shalom
berasal dari bahasa Ibrani yang berarti damai sejahtera. Ketika kita berkata
"Shalom", maka kita mengharapkan damai sejahtera bagi orang tersebut.
Namun shalom juga mempunyai arti lain yaitu relasi yang benar dengan Tuhan,
sesama manusia, dan juga dengan ciptaan-Nya.
Terkadang
kita tidak merasa atau membawa "Shalom" terhadap sesama manusia. Kita
lebih mementingkan apa yang sebatas angan-angan belaka dan tidak memperdulikan
teman kita, guru kita, bahkan orang tua kita, kita lebih dekat kepada media
sosial dibandingkan apa yang nyata, yang ada di depan mata kita. Hal inilah
yang membuat kita "tak berperasaan" sehingga kita menggunakan media
sosial untuk kesenangan pribadi kita sendiri. Sering-kali dan tanpa kita sadari
kita sebenarnya suka menggunakan media sosial untuk menghina atau mem-bully teman, dan bahkan guru kita
sendiri. Hal ini kita lakukan karena kita marah ataupun bisa kita lakukan tanpa
alasan (hanya untuk kesenangan pribadi). Tetapi alasan utama kita mem-bully adalah karena kita sudah mencintai
media sosial lebih dari manusia sehingga kita sudah tidak mempunyai perasaan
lagi kepada orang lain.
Oleh
karena itu, saya merekemondasikan agar kita dapat melakukan satu hal yang dapat
mengembalikan “shalom”. Hal sederhana yang dapat kita lakukan adalah tinggalkan
internet. Hal yang sangat sederhana yang bisa kita lakukan, namun sulit bagi
anak milenial. Hal ini begitu sulit karena kita sudah sangat bergantung pada
internet. Kita sudah sangat bergantung pada gadget. Saking bergantungnya, kita
bahkan mentuhankan gadget, menganggap
gadget lebih penting dari segala
sesuatu yang ada di dunia ini. Kita lebih fokus dan lebih peduli dengan gadget
daripada orang yang ada di dekat kita. Dari situlah muncul sebuah istilah
“Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat”.
Maka
dari itu saya menegaskan agar kita dapat berhenti sejenak dari penggunaan
internet. Hal ini hanya bersifat sementara, namun dalam waktu yang sementara
itu barulah kita akan merasakan kehidupan yang sebenarnya. Berhentilah
menghabiskan waktumu dengan internet, dan mulailah menghabiskan waktumu dengan
Tuhan.
Itulah essay yang bisa saya berikan, semoga essay ini dapat bermanfaat dan bukan hanya untuk dibaca saja tetapi juga untuk dilakukan.
Sekian dan terima kasih.
Sekian dan terima kasih.
Inti tulisan :saat kita sudah mulai mengenal dan mencintai gadget dari pada orang di sekitar kita,itu akan membuat kita tidak peduli lagi dengan orang disekitar kita.Sehingga ketika kita merasa "tersakiti" oleh orang yang dekat degan kita,satu hal yang bisa kita lakukan adalah membully orang tersebut di media sosial, yang membuat kita tidak memiliki "perasaan" dan tidak membawa shalom.Oleh karna itu kita anak milenial harus berhenti sejenak untuk bermain gadget karna dengan itu lah kita bisa melihat kehidupan yang sebenarnya.
ReplyDeleteKelebihan:menggunakan tulisan yang mudah di mengerti oleh pembaca dan membuat pambaca merenung kesalahan saat kita lebih mementingkan gadget
Kekurangan:Tidak mencantungkan sumber dan untuk tindakan nya kurang Efektif,seharusnya agar para anak milenial dapat mengurangi menggunakan gadget adalah membuat diri mereka lebis sibuk dengan kegiatan yang bermanfaat.
Komentar:untuk kedepannya,teruslah giat untuk menulis agar tulisan mu dapat membangun orang tang membacanya.GBU
terima kasih atas komentarnya. tetapi masih terdapat kesalahan peggunaan kata, seperti: "perasaan" harus diawali dengan P, Efektif tidak menggunakan E, terdapat kesalahan ejaan, harusnya ada spasi diantara titik/koma dengan kata.
Delete